Tapi dengan nama ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dana tau Ahlul Bait Indonesia (ABI) agar bisa melahirkan kesan seakan-akan mereka adalah pecinta keluarga Nabi(Ahlul Bait).

Padahal, jika merujuk kepada kitab standar syiah, justru merekalah yang gemar menghina dan mencaci-maki keluarga Nabi. Penghinaan syiah terhadap keluarga Nabi diawali dengan membatasi Ahlul Bait hanya kepada Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan keturunannya. Pertanyaan yang segera akan muncul, mengapa hanya Ali bin Abi Thalib Ra dan keturunannya saja yang tergolong Ahlul Bait?

Jika karena Ali adalah keponakan yang kemudian menjadi menantu Rasul, bukankah ada juga menantu Rasul yang lainnya? Bahkan Utsman bin Affan dijuluki Dzuu Nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua puteri Rasul yakni, Ruqayyah dan Ummi Kultsum. Bukankah juga ada Abu al Ash yang menikahi Zaenab? Yang kendati agak terlambat masuk Islam, namun beliau adalah menantu yang juga disayang Rasulullah SAW.

Terkait dengan keberadaan putri-putri Rasulullah SAW, pada ulama sepakat menyatakan bahwasannya putri Rasulullah SAW itu ada empat, sebagaimana yang juga diakui oleh sebagian tokoh syiah. Bagaimana mungkin seorang bias mengingkari fakta sejarah ini. Terlebih lagi bagi setiap mu’min, karena secara ekspetasi dinyatakan Allah tatkala menyeru Rasul-Nya; “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu (QS. Al Ahzaab, 33:9) di mana kerika menyebut putri Rasulullah SAW tidak dengan kata “bintun” dalam bentuk “mufrad” (singular) atau “bintaani” dalam bentuk “mutsanna” (dua) tapi dengan kata “banaat” dalam bentuk “jama” (plural) tiga atau lebih.

Pertanyaannya, mengapa syiah hanya menetapkan Fatimah saja sebagai putri Rasulullah SAW yang tergolong Ahlul Bait?

Begitu pula dengan isteri-isteri Rasulullah SAW semilah Khadijah, “Aisyah, Zainab, Hafsah dan seterusnya mengapa tidak ada seorang pun yang mereka masukkan kedalam golongan Ahlul Bait? Padahal sebelum Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan Kalian sebersih-bersihnya (QS. Al Ahzaab, 33:33) diawali ayat sebelumnya dengan seruan “wahai isteri-isteri Nabi”(QS. Al Ahzaab, 33:32) dan ayat sesudahnya: “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat  Allah dan hikmah (Sunnah Nabi) sesungguhnya Allah adalah mahalembut lagi Maha Mengetahui (QS. Al Ahzaab, 33:34).

Tidak hanya semau mereka saja dalam menetapkan siapa yang termasuk Ahlul Bait, untuk kemudian mencaci-maki yang mereka anggap bukan Ahlul Bait. Bahkan yang mereka tetapkan sebagai Ahlul Bait sekalipun juga tidak luput dari hinaan dan caci-maki mereka. Terkait dengan ini, syiah kembali menyebarkan fitnah dengan menyandarkan kedustaannya kepada Rasulullah SAW dengan menyatakan, bahwasannya beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan kawin mut’ah satu kali, maka derajatnya sama dengan Husein. Barang siapa melakukan dua kali maka derajatnya sama dengan Hasan. Barang siapa melakukannya tiga kali, maka derajatnya sama dengan Ali bin Abi Thalib, dan barang siapa yang melakukannya empat kali, maka derajatnya sama dengan Rasululllah SAW.

Sungguh ini merupakan fitnah besar sekaligus penghinaan yang luar biasa terhadap Ahlul Bait, terutama kepada Rasulullah SAW. Akal sehat siapa yang dapat menerima, bahwa seseorang bisa mencapai derajat yang sama dengan Husein, Hasan dan Ali bin Abi Thalib R’anhum, bahkan derajat Rasulullah SAW yang ma’sum, justru dengan melakukan perbuatan hina dan keji yang diharamkan Allah SWT.

Fatimah r’anha putri Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai juga tidak luput dari penghinaan. Al Kulaini untuk sekian kalinya kembali menyandarkan fitnahnya kepada Nabu dengan mengungkapkan riwayat dari Abu Abdillah RA bahwasannya Fatimah r’anha pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Engkau nikahkan aku dengan mahar yang sangat murah?” Rasulullah SAW bersabda: “Bukan Aku yang menikahkan engkau, tapi Allah yang menikahkan engkau dari atas langit.

Al Majlisi meriwayatkan dari Muhammad al Baqir RA, bahwasannya Fatimah dalam kesedihannya mengadu kepada Rasulullah SAW, bahwa suaminya Ali RA selalu membagi-bagikan harta kepada fakir miskin. Menanggapi pengaduan itu Rasulullah SAW menyatakan: apakah kamu ingin kemarahan saudaraku dan anak pamanku? Ketahuilah, bahwa kemarahan adalah kemarahanku, dan kemarahank adalah kemarahan Allah SWT.

Mendengar itu Fatimah berkata: “ saya berlindung dari kemarahan Allah dan Rasul-Nya.

#tobecontinue

#sumber Athian Ali Moh. Da’i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here