Masih ingat dulu ada seorang pendukung Ahok nantang duel anggota FPI. Maka terjadilah duel antara keduanya. Akibatnya keduanya sama-sama terluka. Namun nampaknya sang penantang, yaitu pendukung Ahok menderita luka lebih parah hingga dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit, pendukung yang malang ini diganti bajunya dengan baju kotak-kotak ketika masih terbaring lemah.

Tak lama kemudian, tersiar kabar, bahwa anggota FPI melakukan pengeroyokan terhadap pendukung Ahok, hingga terluka parah.

Berita ini untuk sekian lama membuat nama FPI tercoreng.

Namun yang terjadi kemudian ?

Setalah semua dikonfirmasi, jelaslah bahwa ini bukianlah pengeroyokan. Melainkan duel satu lawan satu, Dan itupun yang menantang dan mendatangi adalah pendukung Ahok terlebih dahulu.

Satu kebohongan , sebuah hasutan dan fitnah dapat digagalkan di depan publik.

Membaca berita ini saya jadi teringat, beberapa saat setelah aksi damai 411. Saat itu Ahok diwawancari oleh seorang wartawati dari sebuah televisi dari Australia. Apa yang dikatakan Ahok sungguh mengejutkan, bahwa, “Aksi itu dilakukan oleh orang-orang bayaran. Bahkan dengan tegasnya, Ahok mengatakan bahwa per orang mendapatkan 500 ribu rupiah.

Tak lama kemudian muncul seorang buzzer bayaran diwawancarai secara tertutup di TV One, dengan menghadirkan dua orang ahli.

Apa yang dikatakan Buzzer bayaran ini, sungguh mengejutkan, bahwa dalam aksi 411, dengan bayaran dari seorang Taipan, ia membuat skenario sedemikian rupa sehingga nampak di depan publik bahwa aksi 411, adalah aksi bayaran.

Maka, komentar netizen terhadap konspirasi dan kebohongan ini menjadi rame waktu itu. Satu lagi kebohongan yang sistematis dan berbayar dapat diungkapkan.

Baru-baru ini, netizen dibuat heboh dengan munculnya berita, dua orang yang mengaku sebagai anggota partai Gerindra, mendeklarasikan diri untuk mendukung Ahok. Berita ini dilengkapi dengan foto-foto saat pendeklarasian berlangsung.

Setelah dua hari berita ini menghiasi halaman berbagai situs, muncul berita yang juga mengejutkan. Gerindra memperkarakan dua orang yang mengaku berasal dari partai Gerindra itu, karena dianggap telah mencoreng nama baik partai.

Maka satu kebohongan lagi terungkap di depan publik.

Sampai sekarang masih hangat berita kematian Nenek Hindun, yang kebetulan sekeluarga memang tergabung dalam Timses Ahok-Jarot dan aktif di rumah Lembang.

Netizen pendukung Ahok, begitu bersemangat memberitakan bahwa kubu Anies – Sandi telah mem-politisasi jenazah. Bahkan muncul meme besar dari pendukung Ahok, yang berbunyi, “Setelah berpolitik menggunakan ayat, kini menggunakan mayat.”

Namun setelah dilakukan investigasi lebih jauh, barulah netizen paham bahwa jenazah Nenek Hindun dirawat oleh pendukung Anies – Sandi, dan diantar ambulan dari Gerindra.

Mengapa berita ini menjadi misleading, distorsi, alias kacau dan berbau politis. Ternyata usut punya usut, Neneng, yang juga aktifis rumah Lembang, telah diwawancarai oleh wartawan dari rumah Lembang. Nah dari sinilah kemudian muncul berita yang tak sedap, dan berbau politis.

Satu kebohongan kembali terbongkar.

Hingga seorang teman FB menuliskan sebuah muncul pemeo yang berbunyi,

“Yang merawat jenazah Nenek Hindun adalah orang-orang PKS, pendukung Anies Sandi, yang mengantarkan ke pemakaman mobil ambulan Gerindra, juga pendukung Anies Sandi, sedangkan yang menyebarkan berita bohong bermuatan politis, Tim Ahok – Jarot.”

Begitu banyaknya kebohongan demi kebohongan dari kubu Ahok – Jarot, sehingga jika ada yang berminat melestarikan nya dalam sebuah buku, maka justru akan menjadi sebuah buku sangat tebal.

Akhir-akhir ini, tepatnya beberap hari ini, misalnya, entah apa yang terjadi, atau mungkin karena sudah cair uangnya, grup-grup pendukung Ahok kembali bergeliat dan ramai. Bahkan sampai menyeberang ke kubu lawan.

Padahal sampai beberapa hari sesudah pencoblosan grup2 itu luar biasa sepi.

Jadi ada semacam , gerakan musiman atau sporadis. Sementara pendukung Anies Sandi, selalu menunjukkan sifat alamiahnya, dan konsisten atau ajeg dari waktu ke waktu.

Ada yang menarik dari link-link berita yang disebarkan, maupun meme dan gambar yang dishare oleh pendukung Ahok, mayoritas adalah berita bohong.

Ambil contoh, dari akun Sumanto Al-Qurtubi, yang dari namanya menunjukkan Islami, namun kalimat demi kalimatnya, dalam statusnya, menunjukkan ekspresi dari aktifitas otak reptil.

Tokoh yang mengaku professor ini men-share sebuah foto, anak muda dari belakang, dengan celana dalam nyaris kelihatan, dan berlubang. Kemudian di belakang kaos itu terdapat lambang dan tulisan FPI. Sambil menyebut-nyebut nama “mamat” dengan nada menyindir, sebagai salah satu ciri otak reptilnya aktif.

Namun apa yang terjaid setelah ditelusuri ? Ternyata seorang netizen menemukan bahwa gambar itu adalah editan.

Satu kebohongan kembali diungkapkan. Namun Sumanto yang mengaku professor ini, nampak tidak menyesali apa yang dilakukan, bahkan ngeyel dan memberikan pembenaran-pembenaran.

Begitu berlimpahnya kebohongan demi kebohongan dari kubu Ahok. Namun sayang status ini sudah cukup panjang untuk diteruskan lagi.

Hanya sedikit pertanyaan yang saya ingin tahu jawabanya adalah,

“Bagaimana caranya Anda bisa mempercayai seorang pembohong?”

“Apa yang terjadi dalam benak Anda, sehingga mengingkari hati nurani sehingga mempercayai seorang pembohong ?

Pembenaran-pembenaran, dalih-dalih, alasan-alasan apa yang Anda proses dalam benak Anda agar bisa mempercayai seorang pembohong ?

Karena, bukan tak mungkin hal ini akan terjadi juga pada pilgub jabar….wilujeng wengi….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here