Oleh: Nasrudin Joha

Tidak mudah bagi Jokowi untuk keluar dari kemelut politik via a vis dengan Umat Islam. Bukannya membuat kebijakan yang pro umat, pro Islam, sejumlah begundal kekuasaan justru memproduksi berbagai artikel penyelamatan rezim dengan berbagai dalih dan alasan. Sebagai penguasa, Jokowi tidak perlu menyewa buzer untuk mengerek opini politiknya. Cukup buat kebijakan yang pro umat, selesai !

Faktanya, bukannya meminta maaf terhadap umat, rezim justru memamerkan kejumawaan politik dengan menampilkan sekuel drama penindasan umat, melalui berbagai cara dan sarana. Alat kelengkapan negara telah berubah menjadi kepanjangan tangan rezim. Tidak ada lagi negarawan yang tersisa, semua menjadi politisi. Bahkan, hingga Pranata penegak hukum dan proses yudikatif berubah menjadi panggung politik.

Tidak sulit -bagi awam sekalipun- untuk mengindera kerusakan yang ditimpakan rezim. Cukup membaca kabar ekstensifikasi pajak di berbagai bidang, hingga rencana memalak SPP sekolah, akad nikah dan perceraian, umat akan sampai pada kesimpulan rezim yang berkuasa di negeri ini zalim sezalim-zalimnya.

Cukup membaca atau menonton berita sejenak, semua orang akan sampai pada kesimpulan rezim amatir ini menjajakan kekayaan negeri kepada asing. Sampai-sampai, mitra kerjanya JK mengumbar aib rezim tentang serbuan TKA China. JK meminta China membatasi TKA China, satu pernyataan yang mengkonfirmasi serbuan TKA China di negeri ini nyata, bukan isapan jempol semata.

Padahal, seluruh badut politik sebelumnya menyanggah adanya serbuan tenaga China ke Indonesia. Pernyataan JK sama saja menampar wajah Jokowi, sama persis pernyataan Ribka Tjiptaning yang “Berbangga menjadi anak PKI”, padahal Jokowi mengumbar ujaran akan menggebuk PKI.

Persoalannya, rezim ini bukannya beritikad baik merubah kebijakan. Alih-alih insyaf dan bertobat, justru rezim semakin masif mengobral aset negara kepada asing dan aseng. Atas dasar apa, harta milik umat ini di obral murah kepada penjajah ? jika Jokowi menumpuk hutang untuk kroninya, dan tidak melibatkan umat dan anak cucu negeri ini, tidak ada soal : Silahkan berbuat sekehendak hati.

Tapi persoalannya, utang yang nyaris 4000 triliun lebih, semua beban pembayaran di tagihkan pada APBN yang berasal dari pajak rakyat. Wong cilik terus dibebani berbagai pungutan dan pajak, sementara korporat swasta dan asing mendapat berbagai fasilitas keringanan pajak.

Saya ingin menjadi pembela Jokowi, tetapi realitas politik dan kondisi keumatan menuntut jari ini untuk selalu konsisten membuat artikel yang mendakwa rezim yang zalim ini. Saya telah mendapat kuasa umum, bertindak untuk dan atas nama umat, melakukan tuntutan politik para rezim, sampai rezim benar-benar tunduk taat dan patuh, atau umat binasa bersama rezim.

Rezim hingga detik ini, terus saja berdalih bekerja, bekerja dan bekeja untuk umat. Nyatanya, apa yang dilakukan rezim hanyalah Hutang, Hutang dan berhutang. Setelah itu, rezim menjual, jual dan menjual. Apa hebatnya kepemimpinan model itu ? Apa yang akan dibanggakan kelak ketika rezim menemui ajal dan menghadap Allah SWT?

Sudahlah ! Berhentilah membela rezim, berhentilah menjadi kaki tangan rezim, berhentilah menjadi penjilat-penjilat kekuasaan. Umat hanya ingin bertarung melawan rezim, bukan yang lainnya.

Rezim yang menguasai politik saat ini, baik dari rezim Soekarno hingga Soeharto, baik rezim SBY hingga Jokowi, semua hanya menjadi abdi hukum sekuler. Umat telah puas di khianati, umat telah cukup menyaksikan kerusakan parah yang ditimpakan sistem kapitalisme demokrasi. Umat inginkan Khilafah, bukan yang lain.

Wahai kaum muslimin,

Wahai MUJAHID Islam,

Wahai penyeru agama Allah,

Pekerjaan ini tinggal finishing, cukup satu pukulan telak Anda akan mampu menjungkalkan rezim sekuler anti Islam ini. Anda tidak perlu mengerahkan segenap tenaga daya dan upaya, cukup arahkan pukulan telak pada luka yang menganga ditubuh rezim.

Rezim sekuler ini, meski mereka bergandengan tangan, sesungguhnya ikatan mereka sangat lemah, lebih lemah ketimbang sarang laba-laba. Mereka berhimpun karena kepentingan politik, dan bertarung sengit juga atas dasar kepentingan politik.

Mereka bergandengan tangan di koalisi nasional, tetapi saling hantam pada koalisi Pilkada. Mereka akan saling seteru, saling tarung, dan akan terus begitu karena pertarungan dan intrik politik adalah ciri sekaligus cacat bawaan demokrasi.

Karena itu, berfokuslah kepada umat selaku pemilik kekuasaan real. Raihlah kepercayaan umat, putus legitimasi umat kepada penguasa. Bongkar makar dan pengkhianatan para penjajah dan penguasa antek. Ajak dan bimbing umat, dengan asuhan yang baik agar hanya mau tunduk, taat dan patuh diatur syariat Islam.

Syariah Anda, telah memiliki sekumpulan konsep bersistem yang akan menyelamatkan negeri ini. Syariat Islam yang Agung, akan memberikan rahmat bagi semesta alam, saat diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Karena itu, sejak saat ini umumkan penentangan kepada seluruh sistem dan nilai selain syariat Islam. [].

1 COMMENT

  1. Alloh itu maha sempurna, Maha suci dari kekurangan, Dia Maha Tahu segala … Alloh telah menurunkan aturan berupa sistem islam kaffah…. tetapi mengapa manusia enggan menggunakan sistem tsb. padahal Alloh yang Maha Pengatur yang menciptakan sistem itu kenapa manusia menolaknya coba tanya kenapa??????? umat islam harus bangkit dan berjuang utk menerapkan sistem islam tsb secara kaffah…jangan hiraukan itu manusia-manusia durjana yg enggan mengikuti petunjuk Alloh…. terapkan strategi jihad fi sabilillah yang sudah terbukti keunggulannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here