Thank God we make it, Alhamduillah. Liverpool finally become the English Premiere League Champion. Penantian 30 tahun terasa indah, apalagi Liverpool menjadi juara di saat masih ada 7 game tersisa dan selisih dengan peringkat kedua, Manchester City, hingga 20 poin.

Bangga dan bersyukur atas pencapaian ini setelah musim lalu kalah 1 poin dari Manchester City. Sama halnya saat Liverpool di masa Steven Gerard cs saat dikomandoi oleh Rafa Benitez dan juga Brendan Rodgers. Finish di peringkat kedua dengan selisih 1 poin, padahal nyaris sepanjang musim memimpin liga.

Begitu juga perjuangan kita. Visi hidup harus diperjuangkan dengan mengangkat nilai-nilai. Bisa jadi kemenangan atau visi belum tercapai. Namun memperjuangkan visi dengan menjaga nilai-nilai dalam hidup adalah bagian dari prosesnya.

Selalu yakin untuk menjaga nilai dan prinsip hidup. Jika Allah berikan kemenangan, itu adalah bonusnya. Tidak semua bisa menjadi pemenang seperti Mohamad Salah di Liverpool, atau Muhammad Al Fatih, penakluk Konstatinopel. Tapi kita bisa belajar dari sosok Abu Ayub Al-Anshari.

Abu Ayub adalah sahabat yang selalu ikut perjuangan Nabi sejak perang Badar, Uhud, Khandaq hingga perjuangan pembebasan Konstatinopel. Namun perjuangannya belum berhasil dan dia terluka parah.

Sebelum meninggal, Abu Ayub berpesan pada komandannya, Yazid bin Muawiyah, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Harapannya agar bisa mendengarkan kemenangan atas penaklukkan konstatinopel.

Di jantung kota Istanbul kini bersemayam makan Abu Ayub. Orang Romawi menganggapnya sebagai orang suci. Beliau syahid dalam perjuangannya walau tidak berhasil menaklukkan Konstatinopel.

Inilah arti perjuangan. Kemenangan adalah bonus. Menjaga asa perjuangan dengan menggengam erat nilai adalah yang utama. Tujuannya agar fokus pada visi perjuangan dan tidak menghalalkan segala cara.

Jangan sedih saat bisnismu belum bisa menghadiahimu Ferari. Namun sedihlah jika bisnismu tidak menjadi kendaraan menuju surga Nya Allah. Jaga syariat agar kelak menjadi syafaat. Allah menilai proses kita, bukan hasilnya.

Salam hormat,

Bimo Prasetio

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here