Oleh: Abdullah Hehamahua

Hari itu, Idul Fitri. Andi meminta ibu tercinta duduk di atas kursi. Diambilnya sebaskom air. Hati-hati, kaki ibunda dimasukkan ke dalam baskom. Lembut, tangannya membasuh kedua kaki mulia itu, bergantian kanan dan kiri. Diciumnya kedua kaki itu selesai dibasuh.

Aminah, Janda Mandiri
Hujan rintik-rintik menyambut kami di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, 26 Januari 2021. Masjid Al Hikmah di gang itu, sederhana, tetapi tertata rapi. Shalat maghrib berjamaah, baru usai. Kami berempat shalat berjamaah sesuai SOP Rasulullah SAW: Bahu dengan bahu serta mata kaki kami yang di belakang imam, saling bersentuhan. Usai shalat, kami memasuki gang yang lebih sempit, cukup dua orang melaluinya. Semua rumah korban pembunuhan yang didatangi, berada di gang sempit. Penghuninya miskin, ada janda, yatim, dan berpendidikan rendah, tetapi saleh. Apakah mereka pilihan Allah SWT yang menjadi martir bagi perubahan sosial.?
Awal Islam, Nabi Muhammad didukung budak dan warga jelata. Ada Khabab bin Arts dan Bilal, budak yang penomenal. Sebab, dari mulut mereka hanya keluar perkataan ‘ahad… ahad… ahad.’ setiap penyiksaan yang dilakukan majikan ke atas mereka. Ada Yasir dan isterinya, Sumayyah bin Khubath, menjadi syuhada dan syahidah karena tidak mau mengikuti perintah majikannya untuk mengganti aqidah mereka. Hari ini, banyak akademisi, kiyai, bahkan ulama yang menggadaikan aqidah hanya karena sekerat jabatan, secuil kehormatan, dan setetes status sosial.
Apakah keluarga korban pembunuhan ini berkaitan dengan riwayat berikut.?: “Suatu hari, Rasulullah SAW memberitahu para sahabatnya bahwa, orang-orang miskin nanti akan memiliki kekuasaan.” Sahabat bertanya, ‘kekuasaan apa ya Rasulullah.?” Rasulullah menjawab: “Pada hari kiamat akan dikatakan ke mereka, tariklah orang-orang yang pernah memberimu makan walau sesuap, minum walau seteguk, pakaian walau selembar. Peganglah tangannya dan tuntunlah dia ke surga.’
Rumah itu sederhana, sama dengan empat rumah lain yang kami kunjungi. Berlantai tikar, tanpa perabot dan tidak ada gambar yang bergantungan di dinding. Ruang tamunya sekitar 3,8 x 3 meter. Luas rumah sekitar 12 x 3,8 meter. Hanya sekitar semenit, seorang perempuan separuh baya, keluar menemui kami. Aminah, janda, berpenampilan biasa, seperti ibu-ibu kampung umumnya. Aminah (52) yang ditinggal meninggal suami, Zaenudin, punya tiga orang anak. Andi (33), Ahmad Junaidi (26), dan Maryana Diana Sapitri (16). Andi dan Ahmad hanya tamatan SMP. Anak bungsunya, masih duduk di SMA, kelas satu.
Aminah menjaga anak tetangga yang masih ada hubungan keluarga. Imbalan yang diperoleh, Rp. 700 ribu sebulan. Ahmad Junaidi, lumayan, memeroleh Rp. 2,5 juta sebulan sebagai karyawan toko baja ringan, Andi sendiri kerja serabutan.
Aminah duduk berhampiran dengan saya setelah meletakkan sesisir besar pisang Ambon, kue, dan air mineral. Kuperhatikan label air mineral tersebut. Alhamdulillah, bukan aqua yang milik Yahudi. Sebab, dengan membeli sebotol aqua, berarti kita membantu Israel membeli peluru yang digunakan untuk membunuh warga Palestina.
Keperhatikan wajah Aminah. Masih ada goresan kesedihan. Hati-hati kuajukan pertanyaan terakhir. Sebab, pertanyaan ini berpotensi, merobek luka yang hampir sembuh setelah 49 hari ditinggal anak sulungnya. “Apa perbuatan Andi yang paling mengesankan ibu,?” tanyaku dengan suara yang agak parau. Aminah, beberapa detik, memandangi loteng rumah, lalu dengan suara terbata-bata mengisahkan:
“Hari itu, Idul Fitri. Andi meminta saya duduk di kursi. Diambilnya baskom berisi air. Hati-hati, kaki saya dimasukkan ke dalam baskom. Lembut, tangannya membasuh kedua kakiku, bergantian kanan dan kiri. Selesai, dikeringkan. kemudian… (Aminah tertahan suaranya), diciumnya kedua kakiku.” Masyaa Allah, gumamku.
Saya segera merogok sapu tangan di celana. Kusapu butir-butir air yang membasahi pipi. Jika bukan karena malu, saya akan menangis meraung-raung saat itu. Betapa tidak. Terkenang ibuku, puluhan tahun lalu, menggendongku dari rumah ke sekolah. Saya waktu itu duduk di SD kelas 4. Beberapa hari sebelumnya, celah jari kaki kiri, tertusuk ujung bambu yang tajam, di tepi jalan. Luka dan infeksi. Maklum, saya ke sekolah dengan kaki ayam. Maksudnya, tidak mengenakan alas kaki, sendal, apalagi sepatu. Tidak ada puskesmas, poliklinik, apalagi rumah sakit. Ibu mengobati lukaku dengan obat tradisional. Tepung sagu dicampur air dari kulit batang pohon jati. Keduanya disirami air panas. Adonan berupa kanji itu diletakkan ke luka, lalu diperban dengan potongan kain. Panas dan pedihnya, bukan main.
Ibu, besok pagi menggendongku sepanjang kurang lebih satu kilometer dari rumah ke sekolah. Beliau mendudukkan saya di atas kursi, kelas 4 SD Ihamahu, pulau Saparua, Maluku Tengah. Pukul 12.00, ibu datang menjemputku, menggendongku sampai di rumah. Hal itu dilakukan sepekan sampai saya bisa berjalan sendiri walaupun masih pincang. “Mangapa mama biking bagitu,?” tanyaku suatu waktu. “Mama seng bisa baca, seng bisa tulis. So mama seng mau ose sama deng beta.”
Oh maaf, pembaca kurang mengerti percakapan di atas ya. Itu bahasa kampung. Terjemahannya: “Mengapa ibu buat seperti itu.?” Jawabnya: “Ibu tidak dapat membaca dan menulis jadi ibu tidak mau kamu seperti ibu.” Begitulah pengorbanan seorang ibu. Apakah perkhidmatan anak terhadap ibu, sepadan.? Tidak.! Bersyukurlah Aminah, punya anak seperti Andi yang berkhidmat terhadapnya secara luar biasa sebelum tubuhnya ditembusi peluru polisi, 7 Desember 2020, dinihari.

Andi, Pekerja Sosial
Nama lengkapnya Andi Oktiawan, 33 tahun. Beliau yang paling tua dari enam pengawal HRS yang dibunuh polisi. Andi kerja serabutan. Lebih tepat sebagai pekerja sosial. Andi turun tangan jika ada tetangga punya masalah. Andi akan mengantar tetangga yang sakit, ke rumah sakit. Pihak rumah sakit terkadang menyulitkan pesakit untuk memeroleh kamar. Apalagi bagi mereka yang hanya mengandalkan BPJS. Andi langsung turun tangan sehingga tetangganya bisa memeroleh kamar.
Beberapa waktu lalu, di Batam, seorang bayi meninggal dunia karena terlambat memeroleh penanganan. Bayi ini ditolak beberapa rumah sakit dengan alasan tidak ada kamar. Padahal, penyakitnya perlu tindakan darurat karena terserang diare. Penyebabnya, orang tua bayi hanya punya modal PBJS. Fakta di lapangan, orang kaya, tidak akan menggunakan BPJS. Mereka menggunakan biaya sendiri dan kamar di rumah sakit, selalu tersedia. Inikah presiden dan Menteri yang pancasilais.? UUD 45 menetapkan, negara bertanggung jawab atas kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Justru, pemerintah memeras rakyat melalui program BPJS.
Saya pernah tinggal selama 15 tahun di Malaysia dan bekerja di perusahaan swasta. Kalau demam atau merasa badan kurang fit, saya ke poliklinik langgananan perusahaan. Kartu tanda karyawan membebaskanku dari semua biaya. Di perusahaan, gajiku tidak dipotong. Di rumah sakit pemerintah, murid SD sampai SMA, gratis pengobatan. Gratis meliputi uang pendaftaran, biaya pemeriksaan laboratorium, X-ray, ECG, sampai dengan obat. Selain pelajar, pasien hanya membayar seringgit untuk uang pendaftaran. Lainnya, seperti pelajar, gratis. Bagi mereka yang berusia pensiun, uang pendaftaran pun gratis. Ini layanan kesehatan di negara yang tidak ada Pancasila. Bahkan, ada 50 negara di dunia yang menggratiskan biaya pengobatan rakyatnya. Padahal, pasal 28H UUD 45, ayat (1) mengatakan: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Andi, Ketua Remaja Masjid
Andi Oktiawan, pemuda yang sopan, peramah, mudah bergaul, dan suka menolong siapa saja. Wajar jika Andi terpilih sebagai Ketua Remaja Masjid Al Hikmah, di lingkungannya. Andi, selama tiga tahun memimpin Remaja Masjid, sebelum meninggal, aktif menggerakkan kawan-kawannya di masjid. Program dan kegiatan yang dilakukannya antara lain; Peringatan hari-hari besar Islam; Pawai Obor setiap tahun baru Islam; serta kerja bakti membersihkan masjid dan lingkungan sekitar.
Pertanyaan berikut ini perlu dijawab Polri. Apakah pemuda seperti Andi yang Ketua Remaja Masjid, suka menolong tetangga, dan sangat menghormati ibunya itu, menjadi teroris, pengedar narkoba atau menembak polisi.? Jika Ketua Remaja Masjid menjadi teroris, Polri juga teroris. Sebab, Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia adalah mantan Wakapolri, Syafrudin. Wakil Ketua Dewan Pakar, Budi Gunawan yang juga mantan Wakapolri, sekarang Kepala BIN. Jika institusi Polri bukan teroris, apakah mantan Wakapolri yang teroris. Kalau mantan Wakapolri bukan teroris sementara ada Ketua Remaja Masjid yang jadi teroris, maknanya, beliau tidak becus mengurus masjid. Simpulannya, polisi jangan ikut-ikutan tiru ABRI pada masa orde baru yang berdwi fungsi. Cukup satu fungsi saja, mengurus internal polisi agar bisa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. seperti polisi di luar negeri. Maknanya, polisi perlu mengganti senjata api dengan pentungan seperti polisi Inggeris ketika bertugas di lapangan. Semoga !!!

Depok, 4 Februari 2021

Sebarkan karena Alloh,
Berharap hanya kepada Alloh.

Note:
Jangan lupa di malam dan hari jum’ah mubarokah ini utk membaca Al Kahfi, memperbanyak sholawat, Qiyamullail, istighfar diwaktu sahur, sedekah diwaktu subuh, dzikir pagi dan petang, berdo’a diwaktu2 mustajab, mandi besar dan raih shoff terdepan, serta amal2 sholeh lainnya…

Semoga Alloh meridhoi dan menyelamatkan hidup kita fiddunia wal akhirat dlm limpahan rahmatNYA. 🤲Aamiin🤲

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here