BANSER, KHILAFAH dan KALIMAT TAUHID.

0
174

Oleh : Athian Ali

Rasululloh SAW mentamsilkan ummat Islam Ka al jasad al wahid “Bak satu tubuh” dan BANSER merupakan salah satu bagian kecil dari tubuh ummat Islam di Indonesia.

Sayangnya, bagian tubuh yang satu ini acap kali membuat bingung bagian terbesar dari tubuh ummat ini.

Sepak-terjangnya terutama akhir-akhir ini semakin sulit dipahami bukan hanya oleh kalangan di luar Nahdiyyin, bahkan juga oleh para tokoh dan Ulama dari kalangan Nahdiyyiin sendiri.

Boleh jadi akan panjang tulisan ini jika harus menyebutkan satu persatu langkah kontroversial yang pernah mereka lakukan.

Bagian tubuh dari ummat Islam yang satu ini seringkali dirasakan berlebihan, bahkan terkesan bersikap antipati dan membenci saudara-saudara seiman yang seharusnya mereka cintai seperti mereka mencintai diri mereka sendiri (Al Hadist)
Ironisnya sikap tersebut terjadi (wallohu alam jika ada niat lain yang terselubung) bukan oleh perbedaan di wilayah Ushul “Prinsip yang mendasar dalam akidah dan syariah” tapi hanya dalam masalah Furu’ “ranting” yang ada di wilayah ijtihad yang memang dimungkinkan masing-masing mujtahid berbeda .

Perbedaan di antara para mujtahid bisa disebabkan karena memang tidak ada nash yang menjelaskan masalah yang diperdebatkan, atau ada nash yang qath’i “pasti” namun multi tafsir, atau ada hadist namun dzhonni wurud atau tsubuutnya. Dimana dalam wilayah ijtihad seperti ini, selayaknyalah masing-masing pihak saling menghormati, sebagaimana yang selalu ditunjukkan oleh para Mujtahid terutama tokoh empat mazhab.

Jika terhadap sesama muslim yang berbeda mazhab, BANSER terkesan antipati, anehnya terhadap komunis dan aliran-aliran sesat seperti syiah, yang tidak hanya mengancam akidah tapi juga keutuhan NKRI, mereka justru tampak welcome.

Padahal aliran sesat tertua ini sejak dahulu kala telah difatwakan sesat oleh para Ulama terkemuka termasuk juga pernah difatwakan menyimpang dan Ahli bid’ah oleh pendiri Nahdatul Ulama (NU) hadratusy Syekh. K.H. Muhammad Hasyim Asy’ary.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di samping mengeluarkan fatwa haramnya nikah mut’ah, juga telah menetapkan fatwa kafir dan sesatnya tiga prinsip utama ajaran syiah, yakni yang terkait dengan keyakinan syiah tentang telah terjadinya Tahriif “Perubahan” dalam Al Qur’an, maksumnya para Imam syiah dan kafirnya para sahabat Rasululloh SAW, khususnya Abu Bakr Ash Shiddiq, Umar bin Khottob dan Usman bin ‘Affan r.’anhum.

Tidak cukup sebatas fatwa, demi agar ummat Islsm tidak terkecoh oleh Taqiyyah “Tipu-daya” syiah, maka MUI pun menerbitkan buku Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia.

Sikap lembut dan bersahabat juga acap kali ditunjukkan BANSER terhadap mereka yang secara terbuka melakukan penodaan dan pelecehan terhadap kitab suci Al Qur’an, penghinaan dan penistaan terhadap Rasululloh SAW.

Suara BANSER juga nyaris tidak terdengar, ketika ummat Islam sedang dibuat gerah oleh kebangkitan kembali komunisme di negeri ini. Juga tidak tampak sikapnya yang tegas ketika ummat Islam berjuang menggagalkan keinginan sekelompok orang yang sedang berupaya mengubah Pancasila menjadi trisila dan / atau ekasila. Padahal BANSER termasuk di antara mereka yang selama ini sering nyaring menyuarakan diri paling pancasialis, NKRI harga mati dan slogan-slogan patriotis lainnya.

Bagian tubuh ummat Islam yang satu ini juga terkesan begitu sangat bencinya terhadap khilafah yang merupakan sistem hidup yang harus dijalankan manusia sebagai Khalifah-Nya di muka bumi ( Q.S. Al Baqarah : 30 ) termasuk sistem pemerintahan dalam Islam yang pernah dilaksanakan oleh keempat khulafaa-ur raasyidiin yang sudah dijamin Alloh SWT ahli syurga.

Kebencian terhadap khilafah, belum lama ini dipertontonkan oknum-oknum BANSER kepada publik lewat akhlak yang sangat tidak Islami, ketika dengan arogannya mengintimidasi dan mengintograsi serta mengecam dan memaki-maki seorang ulama sepuh yang seharusnya mereka hormati dengan adab dan akhlak yang terpuji.

Yang jauh terasa lebih aneh lagi sikap mereka terhadap kalimat tauhid dan atau syahaadatain. Kalimat yang tentu saja sangat sakral bagi setiap muslim. Kalimat yang memisahkan secara tajam antara muslim dan kafir. Antara yang hak dan yang bathil. Kalimat yang bak tiket bagi seseorang untuk bisa kelak nanti masuk syurga Alloh SWT.

Apakah karena mereka tidak memiliki cukup ilmu untuk membedakan mana bendera sebuah organisasi dan mana yang bukan, yang pasti mereka akan langsung murka setiap kali melihat kalimat suci itu berkibar dan atau dikabarkan oleh seseorang.

Seperti yang pernah terjadi kurang lebih setahun yang lalu, dimana seorang oknum BANSER bak kerasukan syetan merebut bendera tauhid dari tangan seorang muslim dan lalu membakarnya.
Untuk yang terakhir ini. Terus terang darah saya juga ikut mendidih menyaksikan kalimat tauhid atau syahaadatain diperlakukan seperti itu.

Ingin rasanya jika suatu saat Alloh SWT memberi saya peluang berhadapan dengan siapa pun yang membenci kalimat tauhid itu dikibarkan, dimana insya Alloh saya akan angkat bendera tauhid setinggi-tingginya. Untuk kemudian saya siapkan diri untuk mempertahankannya jika ada yang bermaksud menurunkannya dari tangan saya, walaupun katakanlah, untuk itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya sendiri!

Laa ilaaha illalloh, Muhammad Rasululloh
Allohu Akbar !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here