Fajar: Sistem APBN Syariah, Negara Tidak Akan Mengalami Defisit

0
275
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah merilis RAPBN 2018 pada Rabu (16/8/2017). Anggaran Penerimaan pada RAPBN 2018 menyebutkan secara ringkas jika Rp1.878,4 triliun didapat dari pajak sebesar Rp1.609,4 triliun atau sekitar 86%. Kemudian dari pos Sumber Daya Alam (SDA) dalam hal ini sektor Migas sebesar Rp77,2 triliun atau 4% dan SDA non Migas sebesar Rp22,1 triliun atau sekitar 1%.

“Ini jauh berbeda dengan konsep sumber pendapatan negara di masa kejayaam Islam. Dimana yang menjadi sumber pemasukan utama justru bukan pajak tetapi dari sumber daya alam dan fasilitas-fasilitas umum yang dikelola oleh negara, ” ujar Analis dari LARAS Fajar Afifudin kepada BANGKIT POS Selasa, 12 September 2017.

Fajar menjelaskan secara garis besar, sumber pendapatan negara (Baitul Mal) ada lima. Pertama: hasil pengelolaan harta milik umum dengan ketiga jenisnya, yaitu meliputi fasilitas umum, sumber daya pertambangan, dan lainnya. Potensi pemasukan dari jenis pertama ini sangat besar di dunia Islam, tentu jika dikelola dengan benar sesuai syariah.

“Kalau APBN Indonesia menggunakan prinsip syariah akan didapatkan dana tiap tahunnya sebesar Rp 1. 764 T hanya dari satu sumber saja, yaitu kepemilikan umum yang dikelola oleh negara, ” imbuhnya.

Fajar menjelaskan berdasarkan potensi dan sistem APBN Syariah, negara tidak akan mengalami defisit APBN dan tidak akan menjadikan pajak sebagai sumber utama pendapatan negara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here