Arik S. Wartono

Kasus penyadapan telepon SBY mengingatkan kita pada kisah Skandal Watergate (1972-1974) atau dikenal dengan “Watergate”. Peristiwa ini dinamakan menurut nama sebuah hotel di Washington, D.C. tempat di mana skandal tersebut terjadi. Istilah Waterhate digunakan untuk menggambarkan serangkaian skandal politik di Amerika Serikat Peristiwa tersebut dimulai dengan penangkapan lima laki-laki yang diduga orang-orang dari Tim Kampanye Presiden Amerika serikat Richard M. Nixon. Mereka berusaha membobol masuk ke kompleks perkantoran Komite Nasional Demokrat untuk memasang alat penyadap. Akibatkan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon, dipaksa mengundurkan diri dari jabatan sebagai Presiden AS.

Sebelumnya, John Sirica sebagai hakim pemimpin sidang kasus watergate, telah menduga adanya konspirasi politik di balik kegiatan tersebut. Senat Amerika Serikat kemudian meluncurkan komite untuk melakukan penyidikan lebih lanjut dan akhirnya menemukan hasil bahwa hal tersebut merupakan konspirasi Partai Republik untuk merugikan Partai Demokrat. Akhirnya Mahkamah Agung kemudian memerintahkan presiden Nixon untuk menyerahkan semua rekaman tersebut. Setelah itu, komite yang dibentuk oleh kongres mengeluarkan resolusi impeachment atau tuntutan untuk berhenti terhadap Presiden Nixon.

Yang menarik dari skandal Watergate ini adalah, Presiden Nixon, di impeach bukan karena ada pelanggaran yang dapat mengancam negara atau ada kasus korupsi. Tetapi Nixon di impeach karena dianggap “ BER-BOHONG” kepada rakyatnya. Sebagaimana ungkapan Yosef Craft penulis Washington Post, terbitan tanggal 22 Mei 1973, bahwa “ No one who has followed Watergate believes the President was totally in the dark about these desperate doings. Heavy circumstantial evidence suggests he knew a great deal. So impeachment may be unavoidable “. Nixon dianggap berpura-pura tidak mengetahui adanya upaya “peyadapan” pembicaraan partai Demokrat lawan Nixon dalam PilPres di AS, yang dilakukan oleh 5 orang yang kemudian tertangkap basah di lokasi, ternyata adalah orang-orang-nya Nixon. Walaupun rakyat AS percaya bahwa penyadapan itu bukan langsung dari perintah Nixon. Namun, dengan adanya Pem-BIARAN penyadapan itu saja, dianggap sebagai perbuatan TIDAK BERMORAL.

Peristiwa penyadapan SBY lebih parah karena diduga dilakukan oleh pejabat tinggi negara. Sebab yang berwenang melakukan penyadapan di Indonesia hanya instansi Polri, BIN, KPK dan Kejaksaan Agung. Sementara pada skandal Watergate dilakukan hanya orang suruhan dan bukan melibatkan pejabat pemerintah, itupun sudah menjadi skandal memalukan bangsa Amerika Serikat.

Skandal ini akan meruntuhkan moral wibawa negara dan bangsa ini bukan saja dimata rakyat bangsa ini, tetapi juga di mata Internasional. Jika kasus penyadapan yang diduga melibatkan pejabat tinggi negara ini tidak diproses lebih lanjut secara tuntas dan terbuka. Apabila Indonesia benar benar ingin menjadi bangsa yang besar, dan tidak hanya tenggelam dalam nada retorika belaka. Sebab patut diduga bahwa kasus skandal penyadapan ini hanya puncak gunung Es dari sejumlah kasus bernuansa Korupsi dan kasus lainnya yang dapat mengancam keselamatan negara.

Peristiwa ini adalah hasil Do’a para ulama dan rakyat bangsa ini yang selama ini berada dalam pen zholiman oleh para penguasa bangsa ini. Sehingga Allah SWT menjabahnya dengan membuka jalan bagi ummat Islam dan ummat beragama lainnya untuk menguak rentetan skandal rezim ini, yang diduga kuat sedang menggiring negara ini menuju totaliter. Sebagaimana karakteristik rezim pemerintahan Komunis pada umumnya.

ALLAHUAKBAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here