Oleh DR. H. Abdul Chair Ramadhan :

Kawasan Asia khususnya, Laut Cina Selatan menjadi pusat perebutan pengaruh antara AS dan Cina.  Singapura, Filipina, dan Thailand dekat dengan Amerika Serikat. Di lain pihak – sebelum Jokowi menjadi Presiden –  Cina lebih memiliki pengaruh di negara seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja.  Cina telah membangun pengaruh di kawasan ASEAN lewat proyek pembangunan infrastruktur di negara seperti Kamboja dan Laos. Hal yang sama dilakukan di Indonesia, ketika Jokowi menjadi Presiden. Kekuatan China di era ini jelas tidak dapat diabaikan. Barry Buzan dan Ole Waever dalam buku “Regions and Powers”, mengategorikan China sebagai “great power”, berada setingkat lebih rendah dari Amerika. China digolongkan demikian karena dinilai memiliki potensi ekonomi, militer, dan politik yang mampu menyaingi AS sebagai superpower. Keberadaan Indonesia di kawasan Asia sangat strategis, oleh karenanya China menginginkan Indonesia berada dalam pengaruhnya. Dalam teori militer maupun teori perang, dikenal apa yang disebut Center of Gravity, seperti apa yang dikembangkan oleh Sun Tzu dan Carl Von Clausewitz,  dua orang pemikir militer yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu. Di dalam buku yang berjudul “On War“ Clausewitz mendifinisikan arti Center of Gravity sebagai: “The hub of all power and movement, on which everything depends. That is the point against which all our energies should be directed”. Dalam pengertian ini Clausewitz berbicara tentang lawan atau musuh, dengan berasumsi, “jika musuh kehilangan keseimbangan, maka pukulan demi pukulan harus terus dilakukan sampai kemenangan tercapai” dan “musuh tidak boleh diberi kesempatan untuk bangkit kembali (recovery)”. Dikatakan selanjutnya : “in countries subject to domestic strife ….the center of gravity is generally the capital and seizure of his capital if it is not only the center of administration but also that of social, professional, and political activity.” Terkandung dalam pengertian ini ialah sasaran abstrak yaitu hancurnya pemerintahan, tatanan sosial, maupun ideologi politik.

Dari uraian di atas, setidaknya dapat kita pahami aplikasi konsep Center of Gravity terkait dengan upaya China untuk menguasai Indonesia adalah menutup kesempatan Indonseia untuk bangkit kembali (recovery) dari keterpurukan ekonomi dan sekaligus menghancurkan tatanan pemerintahan, sosial dan ideologi politik. Pada yang tersebut pertama menunjuk kepada terjadinya kapitalisme dalam pengelolaan sumber daya alam yang pada akhirnya sangat sulit menurunkan tingkat kemiskinaan. Ketimpangan ekonomi di Indonesia terjadi karena liberalisasi ekonomi yang lahir dari sistem ekonomi kapitalisme dan politik ekonomi kapitalisme yang memfokuskan kepada produksi kekayaan tapi mengabaikan distribusi atau pemerataan. Pemilikan umum (public property) dilakukan generalisir dengan memasukkan bidang-bidang usaha yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak menjadi hak individu (baca: korporasi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here