Waspadai Manuver PKI Membelit Istana

0
2923

Waspadai Manuver PKI Membelit Istana
An-Najah.net – Paska keluarnya TAP MPRS No. XXV/1966 yang menyatakan PKI sebagai Partai dan organisasi teralarang, orang-orang yang pernah terlibat dengan PKI terbagi menjadi dua.

Dua Kelompok PKI

Pertama, PKI yang ada di Indonesia.

Mereka terdiri dari tiga kelas; A, B, dan C. Masing-masing sesuai dengan kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Golongan A adalah mereka yang memiliki kesalahan yang paling fatal dan mereka telah dieksekusi. Golongan B, yaitu mereka yang melakukan kejahatan kelas menengah, oleh Orde Baru mereka diasingkan ke Pulau Buru. Oleh kader PKI, Pulau tersebut dijadikan judul film propaganda mereka. Adapun golongan C, yaitu kader PKI yang mendukung aksi-aksi PKI. Jumlah mereka banyak dan berkeliaran dimana-mana. Mereka berpindah-pindah, bersembunyi dan bahkan mengganti identitas. Baca juga (Mewaspadai Metamorfosis Ideologi Komunisme)

Kedua, orang-orang PKI yang berada di luar negeri.

Setidak-tidaknya mereka melakukan tiga kegiatan, diantaranya adalah mereka yang tetap mengurus partai dengan semangat bahwa PKI tidak pernah dibubarkan. Kedua, mereka melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi di berbagai universitas luar negeri. Seperti di Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, maupun China. Banyak di antara mereka ada yang telah menjadi doktor dan profesor. Terakhir adalah mereka yang bergerak di bidang bisnis.
Baik PKI dalam negeri maupun PKI luar negeri, mereka saling terhubung dan bekerja sama demi kebangkitan PKI di masa mendatang. PKI yang berada di dalam negeri bertugas mencari kader untuk kemudian dikirim ke luar negeri. Sementara PKI yang berada di luar negeri bertugas menyambut dan mengurus kader PKI yang berasal dari Indonesia. Sehingga ketika para kader PKI ini kembali ke Indonesia, mereka telah menjadi kader-kader tangguh yang nantinya menjadi mentor bagi kader PKI Indonesia.
Untuk mempertahankan eksistensinya, PKI memiliki jurus yang mereka sebut sebagai KKM. Yaitu Kemampuan Kerja di Kalangan Musuh. Kendati pintu politik telah ditutup bagi mereka, namun dengan KKM yang dipadu dengan kamuflase yang sempurna, mereka berhasil memasuki berbagai instansi pemerintahan di indonesia.Tak tanggung-tanggung, jabatan mentereng pernah mereka raih. Sebut saja Sudarmono, di zaman ORBA, tokoh PKI tulen tersebut berhasil menduduki kursi wakil presiden Indonesia.
Pasca revormasi, PKI seolah-olah mendapatkan angin segar. Berbagai aturan yang selama ini melarang PKI memasuki birokrasi dihapuskan. Terutama setelah keluarnya Undang-Undang Pemilu nomor 12 tahun 2003. Dimana pasal 60 G memuat adanya kebolehan orang-orang yang berideologi PKI menjadi apa saja di DPRD, DPR RI, legislatif, yudikatif, atau bahkan eksekutif.
Masuknya kader PKI ke berbagai instansi pemerintahan tentu memiliki tujuan yang tidak bisa diremehkan. Di antaranya adalah menghapus jejak hitam PKI. Menyatakan bahwa PKI tidak bersalah. Sebisa mungkin mereka menekan pemerintah agar meminta maaf kepada PKI. Tuntutan tersebut tidak mungkin keluar kecuali jika jumlah mereka telah terlampau banyak dan kekuatan telah berlipat ganda. Padahal permintaan maaf memiliki konsekuensi logis; meminta maaf berarti mengakui kesalahan. Jika sudah demikan, maka mau tidak mau umat Islam dan TNI yang dulu menjadi korban keganasan PKI akan menjadi pihak yang bersalah. Sebuah pemutar balikan fakta yang amat keji.

Pola Koordinasi PKI

Dalam pengkoordinasian kekuatan, setidaknya PKI menggunakan tiga pola utama.

Pertama, pola resmi.

Pola resmi yaitu dengan menggunakan nama dan lambang PKI asli. Beberapa kali telah menggelar kongres. Kongers ke-8 pada tahun 2000 di Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Kongers ke-9 tahun 2005 di Cianjur Selatan. Dan yang terbaru adalah kongres ke-10, 15-17 Agustus tahun 2010 di Magelang.

Kedua, PKI Gaya Baru.

PKI gaya baru yaitu dengan menggunakan nama samaran dan lambang yang berbeda, padahal inti mereka adalah sama. Pola seperti ini diwakili oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko. Pada tanggal 24-26 maret 2015 PRD telah melakukan kongres yang ke-8 di Hotel Akasia, Jakarta Pusat. Dari kongres tersbut terbitlah sebuaah AD/ART PRD yang sama dengan AD/ART PKI.

Ketiga, kelompok romantisme.

Kelompok romantisme yaitu golongan tua yang terbakar api dendam dan kebencian. Selain karena alasan ideologi, mereka disatukan oleh omosi dan perasaan. Rata-rata usia mereka antara 70 dan 80 tahun ke atas. Mereka dianggap sebagai pahlawan ideologi oleh kader PKI, dan dipercaya untuk memberikan penjelasan tentang doktrin marxisme, sosialis dan ateisme.
Belitan PKI di Istana Negara bukan isapan jempol belaka. Keberadaan mereka bagaikan matahari di siang bolong. Sebut saja Teten Masduki, kader PKI asal Garut, Jawa Barat, sekarang menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia. Padahal telah kita ketahui berseama bahwa tugas Staf Kepresidenan adalah memberi dukungan dan mengarahkan Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan pengendalian program-program prioritas nasional, dan pengelolaan isu strategis.
Dita Indah Sari, seorang Gerwani muda PKI. Dalam dua priode berturut-turut, Ia menjabat sebagai staf ahli di Kementrian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Padahal pada tahun 1996 ia memiliki catatan hitam. Ia pernah ditangkap oleh polisi atas gerakan politiknya. Dalam catatan harian bertanggal 16 April 1996 yang berhasil diamankan oleh polisi, di sana tertulis, “Well, partai kita yang telah dibubarkan 31 tahun yang lalu, akan kita hidupkan lagi.”
Dan selanjutnya adalah Ribka Ciptaning, anggota DPR dari PDI Perjuangan yang datang dari Sukabumi Selatan, dimana daerah itu telah menjadi tempat diselenggarakannya kongres PKI ke-8. Dia pula yang menuliskan buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.
Kehadiran kader PKI ke dalam panggung politik membawa dampak yang sangat meresahkan bagi masyarakat. Misalnya, keluarnya himbauan kepada orang yang berpuasa agar toleransi kepada orang yang tidak berpuasa, rencana penghapusan kolom agama dalam kartu identitas warga, dan pelarangan pembacaan doa ketika membuka atau menutup kegiatan belajar dan mengajar di sekolah-sekolah formal. Semua itu tidak lain merupakan cermin dari ideologi komunis yang menjadi program mereka.
Selain menargetkan Istana Negara, mereka juga telah menguasai birokrasi kepemerintahan. Mulai dari Gubernur, Bupati, Camat, Kades, sampai Ketua RT. Semua itu dilakukan dalam rangka mensukseskan terbentuknya Negara Demorasi Komunis Indonesia. Terbukti beberapa kepada daerah berani mengutak atik Syi’ar-Syi’ar Islam yang telah membudaya bagi rakyat Indonesia.
Di jakarta misalnya, Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Jakarta yang akrab dipanggil Ahok, beberapa kali mengeluarkan surat edaran yang kontroversial. Yang tidak hanya menyakitkan hati warga yang Jakarta, tapi seluruh warga indonesia. Di antaranya adalah larangan untuk Takbir Keliling, larangan memakai jilbab di sekolah negeri, larangan pengajian di Monas, larangan kurban di masjid atau sekolah.
Sayangnya, ketika media mencoba menuturkan fakta-fakta tentang kebangkitan PKI, banyak dari kalangan umat islam Sendiri merasa ceuk, atau bahkan lebai dan mengada-ngada. Padahal fakta telah terpampang jelas di depan mata. Satu hal yang harus dijawab, “Haruskah leher umat Islam dipotong terlebih dahulu, baru mereka percaya?”
Namun, sebagai umat Islam tidak ada kata untuk menyerah, banyak hal yang bisa dilakukan. Antara lain; pertama, mengedukasi umat tentang bahaya dan realita kebangkitan PKI. Media memiliki tanggung jawab yang besar dalam membendung gerak laju PKI. Kedua, membentuk tim kecil yang fokus meneliti, mengkaji, membahas dan melaporkan perkembangan PKI. Ketiga, menghilangkan faktor-faktor pemicu tumbuhnya PKI. Seperti ketidakadilan, pengangguran, kapitalis, dan lain sebagainya.

Sumber ditulis 🖋 Ulang Oleh: Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd حفظه الله
(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Kontributor Tulisan di berbagai Situs-Situs Islam, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal) dari Majalah An-Najah Edisi 130 Rubrik Tema Khusus Hal ; 13.

Diolah dari wawancara dengan Ustadz Drs. Alfian Tanjung, M.Pd حفظه الله
(Pakar Anti Komunis di Indonesia, Pimpinan Taruna Muslim).

Lihat Pula Video di Youtobe (Semoga tidak diBlokir atau Banned sepihak) terkait Ustadz Alfian Tanjung Tema: “ISI ISTANA NEGARA SEMUA PKI” 👉🏿 https://m.youtube.com/watch?v=E4LTv8HnllE
Serta buka pula Tema: “Istana Negara Jadi Sarang PKI Sejak Mei 2016” 👉🏿 https://m.youtube.com/watch?v=uyzo00pDSho
Raih Amal Shalih…!!!
(MOHON di Viralkan)
SEBARKAN sebanyak banyaknya informasi bermanfaat ini ke Umat Islam lainnya di Nusantara, Syukron.
Barakallohu’ fiikum
Disebarluaskan oleh Humas Taruna Muslim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here