Tidak cukup hanya menghina dan mencaci-maki Allah SWT dan Rasul-Nya, syiah juga mengkafirkan dan melaknat para sahabat radliallahu ‘anhum dan setiap orang yang tidak mau mengkafirkan mereka. Menurut mereka syiah, sepeninggal Rasulullah SAW seluruh sahabat telah murtad kecuali hanya 3 sahabat saja yang berasal dari Persia: Al Miqdad bin al Aswad, Abu Dzar al Ghifati, dan Salman al Farisi.

Untuk meyakinkan pihak yang ingin mereka sesatkan tidak segan-segan syiah memfitnah Ahlul Bait seperti Ali bin Husein yang menurut mereka pernah menyatakan: “Abu Bakar dan Umar keduanya kafir, dan kafir juga orang yang mencintai dan setia kepada keduanya. Sebaliknya menurut syiah, berpahala bagi orang yang melaknat keduanya dan yang serupa dengan keduanya dan bahwasannya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyah, semuanya kelak berada dalam peti-peti dari api neraka.

Pemimpin revolusi Iran Khumaini, yang ketokohannya sempat memperdaya ummat islam yang awam, dengan nada penuh kebencian menyatakan: “ Bahwa ‘Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah dan orang-orang sejenisnya, meskipun mereka secara lahiriyah tidak najis, tapi mereka lebih buruk dan menjijikan daripada anjing dan babi.

Kebencian musuh-musuh Allah terhadap para sahabat Nabi yang kemudian melahirkan cerita-cerita bohong mengandung fitnah yang dikemas dalam bingkai taqiyyah telah pula dipublikasikan oleh beberapa tokoh syiah di Indonesia. Dalam buku panduan Majelis Ulama Indonesia (MUI) “Mengenal dan mewasdai Penyimpangan Syiah di Indonesia” disebutkan beberapa di antaranya:

Menyebutkan Abu Bakar dan Umar sebagai Iblis

Menyamakan Abu Hurairah dengan Paulus yang telah mengubah teologi Kristen

Syiah melaknat yang dilaknat Fatimah

Dan yang dilaknat Fatimah adalah Abu Bakar dan Ummar

Para sahabat suka membantah perintah Nabi SAW

Para sahabat mengubah-ubah Agama

Para sahabat murtad

Di samping menghina dan mengkafirkan para sahabat, syiah juga sangat gemar menghina dan mencaci-maki isteri-isteri Rasulullah SAW, terutama Ummul Mu’minin ‘Aisyah radlialiahu’anha, di antaranya dengan menyatakan, bahwa “julukan ‘Humaira’ yang diberikan Nabi kepadanya adalah termasuk julukan yang dibenci Allah.

Al Majlisi dalam kitabnya Haqqul yakin menyatakan, “Akidah kamu (syiah) sehubungan dengan Aqidah at-Tabarru’ (berlepas diri) maka kami berlepas diri dari empat berhala yaitu:

Abu Bakar, Umar,Utsman dan Mu’awiyah, dan juga empat berhala wanitanya yaitu: ‘Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummu Hakam serta seluruh pengikutnya, mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk yang ada di atas permukaan bumi. Tidak sempurna keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada para Imam, kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh tersebut.

Seorang tokoh syiah lainnya, At-Thabarasi meriwayatkan bahwasannya Ali Abi Thalib RA, berkata kepada ‘Aisyah Radliallahu ’anha: “Demi Allah, saya menceraikanmu, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Ali RA, wahai Ali, permasalahan isteri-isteriku setelah aku meninggal, semuanya aku serahkan kepadamu maksudnya, sepeninggal Rasulullah SAW Ali berkah untuk menjaga isteri-isteri Rasulullah atau menceraikannya.

Prinsip ajaran syiah dan sikap para tokohnya yang gemar mencaci dan mengkufurkan para sahabat dan isteri Rasulullah SAW, sangatlah melukai dan menyakiti perasaan ummat Islam yang sangat menghormati mereka. Sejara mencatat mereka sebagai insan terbaik setelah Nabi, dikenal dengan keadilan, keutamaaan akhlaq, kesholehan, kepeloporan dan kesungguhan mereka dalam mendampingin Rasulullah dalam berjuang menegakkan Dien Al Islam. Last but Not least, mereka adalah insan yang sangat dimuliakan dan dipuji Allah SWT dan Rasul-Nya.

Allah SWT bersaksi untuk para sahabat dalam firman-Nya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah “ (QS. At Taubah, 9:100). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon (QS. Al Fath, 48:18) juga firman-Nya: “Kami kokohkan bagi mereka kalimat at Taqwa” (QS. Al Fath, 48:26)

Allah SWT juga sangat memuliakan para isteri Rasulullah SAW (QS. Al Ahzaab, 33:6; 42-43) khususnya ‘Aisyah radliallahu ‘anha yang menjelaskan kesucian beliau dari fitnah yang pernah dialamatkan orang-orang munafik kepada beliau (QS. An Nuur, 24:11-20)

Begitu terhormat dan mulianya para sahabat, sehingga setiap kali seorang mu’min mendengar nama sahabat disebut oleh seseorang, maka segera ia menyambutnya dengan sebutan yang mulia dalam bentuk do’a: “Radliallahu ‘anhu” (Semoga Allah meridhainya). sementara orang-orang syiah akan menyatakan, “La’natullah ‘alaih” (Semoga Allah melaknatnya).

Betapa sangat tegas dan keras sekali berbagai pernyataan Rasulullah SAW tatkala beliau melarang dan mengecam yang mencela dan mencaci-maki para sahabat. Di antaranya dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Said al Khudri, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku, andaikata kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, maka itu belum bisa mengimbangi sedekah yang dikeluarkan para sahabat satu mud saja atau separuhnya.

Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW mewanti-wanti ummatnya bahwa siapa saja yang berani mencela dan membenci para sahabat, berarti is telah membenci Rasulullah SAW. Demikian beliau nyatakan lewat sabdanya: Hati-hatilah terhadap para sahabatku. Janganlah kalian jadikan mereka sasaran cacian setelahku. Barang siapa yang mencintai mereka, maka berarti mereka telah mencintaiku, dan barang siapa yang membenci mereka, maka berarti telah membenciku.

Terlebih lagi bila caci-maki dan laknat ditimpakan kepada sepulu sahabat yang telah dijamin Ahli Syurga oleh Allah SWT sabda Rasul-Nya, yaitu : “Abu Bakar,Umar,Utsman,Ali,Thalhah, Az Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad, sa’ad bin said dan Abu Ubaidah bin al Jarrah.

Dengan berbagai ajaran-ajaran sesatnya, terutama doktrin-doktrin yang sangat menghina Allah SWT, Rasulullah SWT, para sahabat dan isteri-isteri Rasulullah SAW, layakkah jika ada seorang mu’min yang masih saja meragukan kesesatan syiah, dan bahwasannya syiah bukan Islam, bahkan syiah telah sangat menodai Dienul Islam?

  1. PINTU-PINTU JEBAKAN SYIAH

Banyak sekali pintu-pintu jebakan yang digunakan orang-orang syiah terutama para tokohnya, dalam upaya menyesatkan akidah ummat, di antaranya:

  1. CINTA KEPADA RASULULLAH DAN AHLUL BAIT

Cinta kepada Rasul dan keluarga Nabi (Ahlul Bait) merupakan pintu utama yang dipergunakan syiah untuk menarik orang-orang yang akan mereka sesatkan. Slogan ini sangak efektif sekali, bukan saja hanya untuk menunjukkan kepada ummat Islam yang awam bahwa mereka itu ‘Muslim’, tapi bahkan ‘Muslim’ yang sangat mencintai Rasulullah SAW dan keluarganya.

Slogan ini sangat universal sifatnya dan langsung menyentuh jantung keimanan seorang mu’min. bagaimana tidak, karena setiap mu’min tentunya menyadari dan meyakini bahwa standar keimanan yang paling mendasar yang harus dibuktikan pada setiap detik kehidupan, bahwasannya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus mengalahkan cinta kepada dunia dan segala isinya (QS. AL Baqarah, 2:165; At Taubah, 9:24)

Namun, pertanyaannya yang seharusnya diajukan oleh setiap muslim : “ benarkah syiah mencintai Rasulullah?”

Dalam bahasan tentang kesesatan ajaran syiah, sudah dijelaskan berdasarkan rujukan-rujukan dari sumber syiah sendiri, bahwasannya jangankan mencintai, justru prinsip-prinsip ajaran mereka sangat menghina Allah dan Rasul-Nya.

Kiranya dapat ditambahkan di sini, hinaan yang sangat keji kepada Rasulullah SAW yang diunkap dari kitab rujukan utama syiah, “ushul Al Kafi”. Kulaini meriwayatkan dari Abu Abdillah RA, bahwa ketika seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubai bin Salul meninggal, Rasulullah SAW hadir saat penguburan jenazahnya. Ketika itu Umar bin Khaththab menegur Rasulullah SAW: “Bukankan Allah telah melarang engkau hadir dalam penguburannya? Nabi lantas diam saja. Kemudian Umar mengulang pertanyaannya: “Ya Rasulullah, bukankah Allah telah melarang engkau menghadiri penguburannya? Rasulullah SAW menjawab: “Engkau tidak tahu apa sebenarnya yang aku katakana, saya mendoakan : “ Ya Allah, siramlah dadanya dengan api, penuhilah kuburannya dengan api neraka karena ia berasal dari api neraka”.

Riwayat bermuatan fitnah ini sangat menghina Rasulullah SAW, di mana menurut syiah, beliau telah bersikap munafik dengan menghadiri penguburan seorang tokoh munafik Abdulah bin Ubai yang dilarang Allah, sementara ahti beliau mendo’akan kecelakaan bagi yang bersangkutan.

Untuk tujuan memuluskan niat menjebak ummat Islam yang awam, di Indonesia mereka tidak menamakan organisasi mereka dengan “ikatan jamaah Syiah Indonesia”

#tobecontinue

#sumber Athian Ali Moh. Da’i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here