Antara yang meyakini para sahabat yang diridhai bahkan sepuluh di antaranya sudah dijamin Allah ahli Syurga, dengan yang gemar mencaci-maki, mengkafirkan dan melaknat para sahabat?

Bagaimana mungkin mendekatkan apalagi menyatukan antara syiah dengan Islam dalam bingkai Ukhuwah Islamiyyah, bila tokoh syiah yang selama ini dianggap moderat sekalipun, semisal Abdul Husein bin Syarafuddin al Musawi, memuji-muji al Kafi sebagai kitab yang paling shohih. Dalam bukunya al-Muraja’at ia menyatakan: “Kitab-kitab tersebut (yaitu al kafi, at Tahdzib, al Istibshar dan Man Laa Yadhurruhu al Faqih) adalah mutawattir dan isinya dipastikan shohih. Sedangkan al Kafi ialah yang paling dahulu, paling agung, paling baik, paling teliti

Bagaimana akan tercipta Ukhuwah, bila dalam buku-buku utama rujukan syiah tersebut penuh dengan doktrin-doktrin syiah yang menghina Allah SWT, Rasulullah SAW, mencela dan melaknat para sahabat sebagaimana yan telah dijelaskan sebelumnya? Apa mungkin taqriib antara syiah dengan Islam jika dalam kitab yang juga menjadi rujukan syiah dinyatakan, bahwa darah penganut Ahlussunnah halal dan orang-orang selain syiah adalah syirk dan kafir

Doktrin-doktrin ajaran syiah seperti ini menjadi titik krusial yang akan mengantarkan akal sehat seseorang untuk menyatakan: “Mustahil mempersatukan syiah dengan Islam dalam bingkai Ukhuwah Islamiyyah”. Karenanya, ketika seorang Prof. Dr. M. Quraish-Shihab mengarang buku yang berjudul, “Sunnah-syiah bergandengan tangan, Mungkinkah?” Maka jawabannya bisa “mungkin”, bisa juga “tidak mungkin”.

Bisa “mungkin”, jika yang dimaksud hanya sekedar bergandengan tangan dalam urusan-urusan duniawi. Menjadi “tidak mungkin”, jika yang dimaksudkan dengan bergandengan tangan adalah mempersatukan syiah dengan Islam dalam bingkai “ Ukhuwah Imaniyyah Islamiyyah”

Karena Ukhuwah Imaniyyah hanya terbatas bagi orang-orang mu’min sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara” (QS. Al Hujuraat, 49:10). Prinsip ini seharusnya disadari oleh setiap muslim agar tidak terjebak ajaran syiah, dan agar jangan sampai menyalahkan saudaranya sesama muslim yang selama ini kritis terhadap syiah.

  1. TAKFIRI

Salah satu cara yang acapkali dilakukan orang-orang syiah untuk memberikan kesan dan keyakinan kepada ummat Islam yang awam, bahwa yang mereka yakini bukanlah ajaran yang sesat, adalah dengan menyemangatkan julukan “Wahabi” atau melemparkan tuduhan “Takfiri” kepada siapa pun yang sedang melaksanakan kewajiban “Amar ma’ruf nahi munkar” (QS. Ali Imran, 4:104;110) untuk mengingatkan kesesatan ajaran mereka.

Sangat mungkin muslim yang mereka tuduh sebagai Wahabi itu bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah dan julukan tersebut? Atau jangan-jangan orang syiah yang melemparkan tuduhan tersebut juga bahkan lebih tidak tahu apa sesungguhnya Wahabi itu.

Begitu pula dengan tuduhan “takfiri” (orang yang suka mengkafirkan). Siapa sebenarnya yang mereka maksud? Setiap mu’min tentunya meyakini, bahwasannya tidak ada seorang muslim pun yang berhak menyatakan, bahwa ajaran yang diyakini oleh seorang atau sekelompok orang itu ajaran yang sesat dan bahwasannya para pengikut ajaran tersebut telah kafir.

#tobecontinue

#sumber Athian Ali Moh. Da’i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here