Oleh : Nasrudin Joha 

Ketua BPIP Megawati Soekarnoputri menantang para pengusung ideologi khilafah untuk berdialog di DPR. Bila pengusung khilafah lebih memilih cara yang merusak, Megawati mengusir mereka dari Indonesia.  Mega mengungkap dirinya sudah membuka diri, karenanya dia menghimbau agar pengusung khilafah tak usah main di jalanan merusak kepentingan umum dan sebagainya. Dia meminta datang ke DPR, berbicara apa yang kamu maksud dengan konsep itu.  Mega juga menjelaskan perihal keprihatinannya terhadap aksi terorisme, bahkan ada ibu yang mengajak anaknya melakukan bom bunuh diri. Padahal, anak-anak dikaruniakan Allah SWT untuk dibesarkan supaya menjadi orang yang berbudi pekerti, bukan menghilangkan nyawa orang lain (9/12).  Menanggapi hal itu, kami kaum milenial yang mengusung khilafah, dan menanti datangnya Nasrulloh hingga tegaknya khilafah, mengajukan tantangan kepada Mbah Mega untuk menjawab beberapa realitas politik sebagai berikut :  Pertama, fakta yang merusak dan menggunakan cara kekerasan, memaksakan kehendak dengan membunuh dan merusak fasilitas publik, untuk mencapai tujuan politik memisahkan diri dari kedaulatan negara adalah OPM. Kami pengusung khilafah hanya berdakwah, hanya ngomong, hanya adu ‘utek’ bukan adu ‘otot’ lantas kenapa kami yang diusir Mbah ?  Seharusnya, Mbah Mega selaku ketua BPIP mengultimatum OPM untuk segera kembali ke ibu pertiwi. Jika tidak, silahkan Mbah Mega kalau mau main usir OPM. Sebab, memang OPM telah membunuh dan merusak fasilitas publik secara terbuka, di jalanan bahkan hingga di pusat kota.  Kalau Mbah Mega mau mengusir kami, kaum milenial yang menginginkan khilafah, apa dasarnya ? Kami lahir dan dibesarkan di negeri ini, kakek buyut kami juga berjuang memerdekakan bangsa ini, bahkan kakek buyut kami negarawan yang setia, bukan antek atau mandor Romusha. Kami juga mencari makan sendiri, hidup dari karunia Allah SWT, kami tak pernah makan dari uluran tangan mbah Mega. Lantas, apa hak mbah Mega main usir ? Memangnya negeri ini milik Mega sendiri ?  Kedua, fakta terorisme itu sendiri hanya narasi untuk memfitnah kami umat Islam. Kami selalu menjadi korban terorisme, pada saat yang sama kami juga menjadi tertuduh pelaku terorisme.  Sampai hari ini, kasus terorisme hanyalah ramai ditingkat tangkap tangkapan, dor doran oleh densus 88, rame di media. Namun, prosesnya tak semua sampai di muara pengadilan. Dari Situ kita semua bisa paham, terorisme bukanlah isu penegakan hukum melainkan hanya proyek politik.  Ketiga, yang terbukti merugikan bangsa ini ya para politisi, anggota partai, dan yang paling banyak dari PDIP, yang terbukti menggarong uang negara, korupsi. Lah, kader mbah Mega yang bikin rusak NKRI kok kami-kami yang diusir ? Apa yang telah dirugikan bangsa ini dari kami, dari khilafah ? Memangnya khilafah pernah korupsi ? Ngawur !  Keempat, kami bukan tak mau, apalagi tak berani berdiskusi dengan anak buah mbah Mega di DPR. Hanya saja kami berdiskusi dengan yang punya kadar intelektual, bukan main otot, yang kalau kalah debat main lapor polisi.  Junimart Girsang baru membahas Pancasila saja kalah debat dengan Rocky Gerung kepalanya langsung mendidih, pingin lapor polisi. Apalagi mau diskusi khilafah ? Diskursus sistem politik Islam yang tentu lebih njelimet ketimbang membahas Pancasila.  Lagipula untuk apa melayani debat diskusi khilafah dengan rezim yang kalah debat keluarkan perppu untuk membungkam dakwah khilafah. Apa perlunya diskusi dengan orang yang mudah berasap kepalanya ?  Jadi sekali lagi, kami yang milenial ini, yang masih muda ini menyarankan kepada mbah Mega agar mengukur statement. Jangan mengikuti hawa nafsu, main tantang main usir, itu tak sesuai dengan kultur, budaya dan Budi pekerti. Tak elok mbah dilihat banyak anak bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here